Translate

Sunday, March 8, 2020

Cerpen Pertama


KEMBANG SEPASANG


Malam ini adalah purnama ke sepuluh sejak kematian suami Naracandri, tidak seperti purnama-purnama yang telah lalu. Malam ini terasa aneh dan mencekam, dingin dari angin yang tertiup pun terasa ganjil. Membuat bulu kuduk berdiri.
Naracandri sedang memangku anak perempuannya yang berusia tujuh  tahun, Kirana, sambil menyanyikan gending-gending yang sama sekali tidak dimengerti oleh anaknya. Namun Kirana tetap menyukainya, karena suara ibunya merdu. Seperti memistis sehingga ketekutan-ketakutan yang ada di benaknya menghilang bersama lelap tidurnya.
Namun malam ini tembang itu pun terasa lain dalam diri Kirana, sepertinya ada kegelisahan yang terbersit dalam suara ibunya lewat kidung tembangnya.
Mbok, ada apa Mbok?” tanya Kirana menghentikan nyanyian Nara.
“Purnama malam ini agak lain, Nduk! Aku merasakan akan ada sesuatu yang terjadi di desa ini,” jawab Naracandri, “Warna bulan penuh malam ini terasa lain, seperti ada kalangannya.”
Kirana hanya hanya mendelik ketakutan tanpa mengerti ke mana arah percakapan ibunya. Namun dia juga  khawatir karena apa yang dikatakan ibunya bisa dipastikan akan menjelma menjadi kenyataan.
Sepuluh bulan yang lalu saat Kirana sedang bermain di bukit belakang rumahnya, Naracandri memeperingatkannya. Padahal hari itu matahari tengah memancarkan panas yang sepanas-panasnya. Namun hal itu dirasakan lain oleh Nara, seperti adanya gelayut awan di kaki gunung Kambe.
“Jangan turun ke sungai hari Nduk, akan ada banjir bah datang.”
Mbok, darimana simbok tahu?” tanya Kirana.
“Alam mengatakannya Nduk. Suatu saat nanti kamu juga mengerti sendiri,” jawab Nara datar.
Semua hanya kebetulan tahu memang sudah ditentukan, banjir bah itu tiba-tiba datang. Tanpa hujan, Kirana hanya memperhatikan air kecoklatan menelan batu-batu yang berserakkan, kayu dan apa saja yang di tepinya, termasuk ayahnya yang sedang mencari ikan di hilir sungai. Sebetulnya Nara telah memperingatkannya, namun suaminya itu teetap membandel dan berjanji akan pulang sebelum bedug berkumandang. Ternyata sampai hari ini dia tidak pulang. Sejak saat itulah mereka hanya hidup berdua saja.
Sebetulnya Naracandri mempunyai saudara perempuan yang umurnya hanya berselisih dua tahun saja. Narasati namanya, dia memilih hidup di kaki gunung Wiling dengan alasan dia tidak mau diganggu oleh lelaki-lelaki yang ingin menyuntingnya, namun dia selalu menolaknya. Entah karena alas an apa dia memilih hidup sendiri dan menyatu dengan alam.

***
Malam telah larut, namun mata Naracandri tidak mau terpejam. Firasatnya semakin kuat mengakar di benaknya hingga rasa kantuknya hilang sama sekali. Di sisinya, Kirana telah tertidur dengan pulas setelah mendengarkan dongeng tentang Putri Ngerit yang menjadi rebutan Demang Tangar dan Rangga Pesu.
Naracandri bangkit dari dipan, lalu berjalan mendekati jendela dan membukanya. Dia lebih kaget lagi dan mundur beberapa langkah ketika rembulan di langit tidak bersinar seperti biasanya. Ternya bukan hanya kalangan saja yang melingkari purnama malam ini, cahaya kemerahan menyelimuti purnama.
“Gusti, apa yang akan terjadi?” gumamnya meratap.
Menurut perkiraan yang sudah-sudah bila rembulan bersinar seperti itu menandakan akan ada peristiwa pertumpahan darah atau bisa dikatakan perang, meski dalam ukuran yang kecil. Atau akan ada sebuah kematian. Naracandri semakin bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini. Dia hanya berjalan mondar-mandir sambil mengingat akan ada kejadian apa di desanya. Namun dia tidak berhasil menemukannya. Sehingga kegelisahannya pun semakin mendalam.
Akhirnya sebagai satu-satunya jalan dia harus berbicara dengan alam, Ibu bumi. Naracandri mulai besimpuh di lantai tanah rumahnya, menembangkan tembang Pemangil Alam. Suaranya mendayu dan mengalun pedih seperti sebuah ratapan panjang dengan lenkingan yang mengerikan. Namun di sisi lain suaranya menentramkan jiwa yang sedang dideru api kemarahan.
Kirana terbangun dan memperhatikan ibunya, dia turun dari dipan lalu ikut bersila di samping ibunya. Tanpa bersuara, dia hanya memperhatikan apa ibunya lakukan malam ini, ganjil sekali rasanya, seingat dia ibunya belum pernah melakukannya.
Naracandri hanya tersenyum sekilas melihatnya sambil meneruskan tembangnya yang mengalunkan nada-nada harapan. Kegelisahan bathinnya semakin memuncak, ketika di tengah lagunya dia mencium aroma bebunga yang harum. Sepasang bunga sedap malam melintas di pikirannya, jantungnya berdebar keras, pertanda apakah ini? Aroma itu semakin menusuk dan membuat Nara menoleh pada anaknya. Kirana terpekik kecil dan terduduk, namun ada hal yang membuat Naracandri kaget, di tangan Kirana ada dua tangkai bunga sedap malam yang masih segar dan bercahaya.
“Nduk, dari mana kembang sepasang itu Nduk?” tanya Nara.
“I…ni ta… ta… tadi ada seseorang yang melemparkannya padaku Mbok?” jawab Kirana ketakutan.
“Siapa?” tanya Nara gusar. Lalu dia lari menuju jendela. Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada kelelawar yang mengepak dan mengerubungi bunga jambu.
Naracandri semakin gelisah, dia menyelesaikan tembangnya saat itu juga. Lalu membopong Kirana ke dipan untuk tidur. Nara pun kelelahan dan tertidur dengan pulas, mungkin dalam mimpinya pun dia tidak akan bisa tenang.

***

“Nara, kenapa kamu datang ke sini?” sebuah suara menghentikan langkahnya. “Pergilah kamu dari sini! Larilah! Jangan kamu hiraukan apapun yang terjadi.”
Naracandri kebingungan mencari sumber suara itu, dekat sekali dan sepertinya dia mengenali suara itu. Mengingatkannya pada sosok yang sangat dikaguminya, kakak perempuannya.
“Nara, larilah, jauhi tempat ini!”
“Mbakyu, betulkah kamu mbakyuku, Mbakyu Narasati?” tanya Naracandri keheranan dan penuh harap.
“Betul!” namun bukan kegembiraan yang terengar. Hanya sebuah suara lelah yang putuh asa.
“Mbakyu kamu di mana, ak…” Naracandri berhenti bersuara ketika dia mengandung sesuatu dan  ada sebuah benda asing yang membuat rusuk dan dadanya terasa perih dan ngilu.
Naracandri meraba ulu hatinya, basah ya basah, namun bukan keringat, melainkan darah segar yang merembes dari bekas tombak yang menghunjam tubuhnya dari belakang.
“Bodoh!!” teriak Narasati. “Ini penuh jebakan Nara, kita telah terjebak. Ada orang yang sengaja ingin membunuh kita, Nduk!”
“Ke… kenapa, Yu?”
“Mereka takut kepada kita. Katanya kita adalah sumber malapetaka yang terjadi di kampung kita.”
“Apa?!” suara Naracandri terdengar lirih menahan sakit. Dia berusah mengingat kejadian pagi tadi. Ketika laki-laki separo baya mengetuk pintu gubuknya di atas perbukitan itu. Padahal Naracandri masih tidur dan dalam kelelahan yang sangat, sebab ritual semalam begitu menguras tenaganya.
“Nara… Nara… dimana kau, Nduk?” dibarengi dengan gedoran sehingga pintu yang tebuat dari papan itu seperti mau ambruk.
Naracandri geragapan seperti ada seekor kalajengking yang menyengat tubuhnya. Dia menggigil di tepian dipan. Kirana juga memegang erat tangan Naracandri, tubuh kirana memucat dan jantungnya berdegup kencang.
“Naracandri!” suara itu datang lagi, “keluarlah sebentar, Nduk, ada yang ingin aku sampaikan.”
“Se… se… sebentar!” akhirnya Naracandri memberanikan mengeluarkan suara. Tidak seperti biasanya, tidak seorang pun yang sudi bertandang ke gubuknya semenjak kematian suaminya, apalagi sepagi ini. Sebetulnya, dalam dada Naracandri terbesit ketakutan yang sangat, namun dia mau tidak mau harus membukakan pintu. Perhalan dia berjalan mendekati pintu, diintipnya lewat lubang siapa yang datang. Seorang kakek, mungkin tetua kampungnya. Lalu perhalan dia menurunkan palang kayu yang mengunci pintu itu.
“Silahkan masuk, Ki. Ada apa ya, pagi-pagi sekali sudah mencari saya?”
“Saya mendengar, bahwa di hutan kaki gunung Kambe, ada sesuatu yang memerlukan bantuanmu, Nduk. Ada aral yang melintangi jalan di sana.” Namun Naracandri mengendus sebuah kebohongan di mata orang itu.
Kenapa harus berurusan lagi dengan gunung Kambe, bisik Nara dalam hati. Ini adalah ketakutannya, sebab gunung itu menyimpan misteri dan juga selalunya malapetaka yang menimpa desa berawal dari pertanda-pertanda yang dihadirkan oleh gunung itu.
“Betulkah itu, Ki?” tanya Naracandri menyelidik.
“Betul!” jawab lelaki itu singkat. “Jika kamu tidak keberatan, dan kamu ingin menyelamatkan penduduk kampung ini, pergilah ke sana sebelum matahari mencapai ubun-ubun.” Lalu lelaki separo baya itu pergi meninggalkan tempat itu. Naracandri termanggu beberapa saat, aneh, pikirnya dalam hati. Bukankah dia lebih bisa mengatasinya, karena dia adalah tetua kampung.
Namun sesuai dengan firasatnya, bahwa akan terjadi pertumpahan darah, Naracandri pun tidak bisa tinggal diam. Dia bergegas untuk melaksanakan tugas itu, meskipun dirasanya agak aneh juga. Kirana yang masih pulas tertidur ditinggalkannya begitu saja, tanpa pamit dulu kepadanya.
Naracandri lunglai, dalam pikirannya hanya ada Kirana saat ini. Dia tidak tahu jika ajal menjemputnya, siapa yang akan membesarkannya.
“Kirana, maafkan simbok, Nduk!” desisnya.

***

“Hahahaha…!” tawa itu terdengar mengejek. “Ternyata mudah untuk mengelabuhi dua bersaudara ini ya!”
“Siapa kamu?”  teriak Narasati dalam geletar ketakutan.
“Kamu tak perlu tahu saya siapa, yang penting aku telah menangkap ke dua perempuan laknat yang mengganggu kerjaku!” lalu lelaki itu mendekati Naracandri.
“Tombak ini terlalu kecil, binatang buas saja tak kan mati, tapi kamu perempuan liar, mengapa begitu rapuh? Mana kekuatanmu?” lalu lelaki itu mencabut dengan paksa tombak yang menancap di dada Naracandri. Darahpun menyembur.
Naracandri belum mati, dia masih tahu gerak langkah lelaki itu, mendekati sebuah pohon lalu mengeluarkan belati dan memutus tali yang melingkar di pohon itu. Lalu lelaki itu menarik salah satu ujung tali hingga kelihatan sesosok perempuan terikat di sana, Narasati.
Yu Sati!” bibir Naracandri bergetar mengucapkannya.
Lelaki itu menarik Narasati dan mendorong tubuh Narasati hingga terjerembab di sisi Naracandri. Lalu lelaki itu menyeringai.
“Mampus kalian!” lalu lelaki itu berpaling dan berseru, “Sudah siap apa belum?”
“Sudah!” jawab suara di balik semak-semak.
“Kemarilah dan bantu menggotong mereka berdua ke situ!”
“Baik!”
Lalu bermunculan tiga orang laki-laki, mereka semua kelihatan beringas. Mereka mengangkat tubuh yang lemah itu, Narasati dan Naracandri pun tak bisa melawan, mereka kehilangan tenaga. Hanya tetembangan yang bisa dia kidungkan, berharap mereka mampu merasakannya dan mengurungkan niatnya untuk melakukan hal yang buruk pada diri mereka.
Namun rupanya hal itu tidak mempan, mereka sudah dungu, hati mereka tertutup oleh sebuah kebencian. Sehingga tembang yang dikidungkan oleh kembang sepasang itu tak bermakna lagi. Mendung menyapu wajah Narasati dan Naracandri. Terlihat di hadapan mereka, sebuah gundukan daun kering dan ranting kayu disusun sedemikian rupa seperti sebuah tempat untuk pembakaran. Lalu mereka lelaki-lelaki yang beringas itu mengikat Naracandri dan Nara sati pada kayu yang diberdirikan, memang sengaja dipersiapkan seperti itu, guna memudahkan untuk membakar tubuh kembang sepasang ini.
Setelah diikat kuat dan memastikan tidak akan lepas, lelaki-lelaki itu tertawa-tawa garang dan wajahnya menyiratkan kemenangan yang teramat sangat.
“Ki… ra…na…” desis Naracandri hampir tidak terdengar. “Semoga ada yang menolongmu, Nduk.”
Naracandri memejamkan matanya erat-erat, dalam benaknya berkelebat bayang suaminya, tersenyum.
“Bodoh! Kamu belum akan mati Nara, tugasmu masih banyak dan panjang,” kata bayang-bayang suaminya itu. Sontak Naracandri membuka mata dan memulai mendendangkan kidung lagi.
Narasati pun kaget dan dia mengikuti tembang itu. Capung-capung beterbangan, hutan menjadi hening bahkan terlalu ganjil untuk waktu siang yang panas. Namun tiba-tiba ada keganjilan yang lebih ganjil lagi, guruh membelah angkasa dan tidak lama kemudian hujan lebat membasahi bumi.
Keempat lelaki yang garang tadi kebingungan dan mengumpat berulang kali. Rencananya gagal lagi, obor yang di tangan mereka pun padam. Dari arah barat terdengar suara gaduh seperti rombongan orang kampung. Hal ini semakin mengherankan, namun Naracandri tidak bisa mendengar apa-apa lagi, nyeri di dadanya teramat sangat.

***

Telaga bening di hadapan Naracandri bersinar indah, sepasang angsa berenang di sana.
“Nara, saatnya kamu pulang!”
“Aku ingin ikut  kamu saja, Kang,” jawab Nara sendu.
“Pulanglah cepat, di sana banyak yang menunggumu.”
Lalu dengan sigap tubuh Naracandri terdorong, ke lorong-lorong entah. Dan akhirnya dia mendengar suara-suara yang pernah dia kenal, Kirana, pikirnya. Namun dia merasakan kembali perih di dadanya dan ingatannya kembali.
“Mbok, bangun Mbok.”
Suara kecil memelas itu.
“Ki… ra…na,” desisnya lemah hampir tidak terdengar.
Mbok, kamu sudah bangun Mbok?” pekik Kirana anatara percaya dan tidak.
Mbokde Sati, simbok sudah bangun!” teriaknya lagi.
Naracandri mengumpulkan tenaga untuk membuka mata dan mengenali keadaan sekitarnya, lalu dia meraba dadanya, ada balutan kain di sana membungkus bobok. Lalu dia melihat Kirana menyeret Narasati mendekatinya.
“Syukur, Nara, jika kamu telah sadar, sudah seminggu kamu pingsan,” kata Narasati sambil menyodorkin gelas berisi air.
Hah?! Seminggu aku pingsan, batin Naracandri.
“Kalau masih lemah kamu berbaring dulu. Nanti aku akan menjelaskan semuanya.”
“Tidak usah Yu, aku tidak mau mendengar penjelasan apa-apa lagi, yang penting kita selamat.” Lalu mereka bertiga berpelukan.