KEMBANG SEPASANG
Malam ini adalah purnama ke sepuluh sejak
kematian suami Naracandri, tidak seperti purnama-purnama yang telah lalu. Malam
ini terasa aneh dan mencekam, dingin dari angin yang tertiup pun terasa ganjil.
Membuat bulu kuduk berdiri.
Naracandri sedang memangku anak perempuannya
yang berusia tujuh tahun, Kirana, sambil
menyanyikan gending-gending yang sama sekali tidak dimengerti oleh anaknya.
Namun Kirana tetap menyukainya, karena suara ibunya merdu. Seperti memistis
sehingga ketekutan-ketakutan yang ada di benaknya menghilang bersama lelap
tidurnya.
Namun malam ini tembang itu pun terasa lain
dalam diri Kirana, sepertinya ada kegelisahan yang terbersit dalam suara ibunya
lewat kidung tembangnya.
“Mbok,
ada apa Mbok?” tanya Kirana menghentikan
nyanyian Nara.
“Purnama malam ini agak lain, Nduk! Aku merasakan akan ada sesuatu
yang terjadi di desa ini,” jawab Naracandri, “Warna bulan penuh malam ini
terasa lain, seperti ada kalangannya.”
Kirana hanya hanya mendelik ketakutan tanpa
mengerti ke mana arah percakapan ibunya. Namun dia juga khawatir karena apa yang dikatakan ibunya bisa
dipastikan akan menjelma menjadi kenyataan.
Sepuluh bulan yang lalu saat Kirana sedang
bermain di bukit belakang rumahnya, Naracandri memeperingatkannya. Padahal hari
itu matahari tengah memancarkan panas yang sepanas-panasnya. Namun hal itu
dirasakan lain oleh Nara, seperti adanya gelayut awan di kaki gunung Kambe.
“Jangan turun ke sungai hari Nduk, akan ada banjir bah datang.”
“Mbok,
darimana simbok tahu?” tanya Kirana.
“Alam mengatakannya Nduk. Suatu saat nanti kamu juga mengerti sendiri,” jawab Nara
datar.
Semua hanya kebetulan tahu memang sudah
ditentukan, banjir bah itu tiba-tiba datang. Tanpa hujan, Kirana hanya
memperhatikan air kecoklatan menelan batu-batu yang berserakkan, kayu dan apa
saja yang di tepinya, termasuk ayahnya yang sedang mencari ikan di hilir
sungai. Sebetulnya Nara telah memperingatkannya, namun suaminya itu teetap
membandel dan berjanji akan pulang sebelum bedug berkumandang. Ternyata sampai
hari ini dia tidak pulang. Sejak saat itulah mereka hanya hidup berdua saja.
Sebetulnya Naracandri mempunyai saudara
perempuan yang umurnya hanya berselisih dua tahun saja. Narasati namanya, dia
memilih hidup di kaki gunung Wiling dengan alasan dia tidak mau diganggu oleh
lelaki-lelaki yang ingin menyuntingnya, namun dia selalu menolaknya. Entah
karena alas an apa dia memilih hidup sendiri dan menyatu dengan alam.
***
Malam telah larut, namun mata Naracandri
tidak mau terpejam. Firasatnya semakin kuat mengakar di benaknya hingga rasa
kantuknya hilang sama sekali. Di sisinya, Kirana telah tertidur dengan pulas
setelah mendengarkan dongeng tentang Putri Ngerit yang menjadi rebutan Demang
Tangar dan Rangga Pesu.
Naracandri bangkit dari dipan, lalu berjalan
mendekati jendela dan membukanya. Dia lebih kaget lagi dan mundur beberapa
langkah ketika rembulan di langit tidak bersinar seperti biasanya. Ternya bukan
hanya kalangan saja yang melingkari purnama malam ini, cahaya kemerahan
menyelimuti purnama.
“Gusti, apa yang akan terjadi?” gumamnya
meratap.
Menurut perkiraan yang sudah-sudah bila
rembulan bersinar seperti itu menandakan akan ada peristiwa pertumpahan darah
atau bisa dikatakan perang, meski dalam ukuran yang kecil. Atau akan ada sebuah
kematian. Naracandri semakin bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan saat
ini. Dia hanya berjalan mondar-mandir sambil mengingat akan ada kejadian apa di
desanya. Namun dia tidak berhasil menemukannya. Sehingga kegelisahannya pun
semakin mendalam.
Akhirnya sebagai satu-satunya jalan dia harus
berbicara dengan alam, Ibu bumi. Naracandri mulai besimpuh di lantai tanah
rumahnya, menembangkan tembang Pemangil Alam. Suaranya mendayu dan mengalun
pedih seperti sebuah ratapan panjang dengan lenkingan yang mengerikan. Namun di
sisi lain suaranya menentramkan jiwa yang sedang dideru api kemarahan.
Kirana terbangun dan memperhatikan ibunya,
dia turun dari dipan lalu ikut bersila di samping ibunya. Tanpa bersuara, dia
hanya memperhatikan apa ibunya lakukan malam ini, ganjil sekali rasanya, seingat
dia ibunya belum pernah melakukannya.
Naracandri hanya tersenyum sekilas melihatnya
sambil meneruskan tembangnya yang mengalunkan nada-nada harapan. Kegelisahan
bathinnya semakin memuncak, ketika di tengah lagunya dia mencium aroma bebunga
yang harum. Sepasang bunga sedap malam melintas di pikirannya, jantungnya
berdebar keras, pertanda apakah ini? Aroma itu semakin menusuk dan membuat Nara
menoleh pada anaknya. Kirana terpekik kecil dan terduduk, namun ada hal yang
membuat Naracandri kaget, di tangan Kirana ada dua tangkai bunga sedap malam
yang masih segar dan bercahaya.
“Nduk, dari mana kembang sepasang itu Nduk?”
tanya Nara.
“I…ni ta… ta… tadi ada seseorang yang
melemparkannya padaku Mbok?” jawab Kirana ketakutan.
“Siapa?” tanya Nara gusar. Lalu dia lari
menuju jendela. Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada kelelawar yang mengepak dan
mengerubungi bunga jambu.
Naracandri semakin gelisah, dia menyelesaikan
tembangnya saat itu juga. Lalu membopong Kirana ke dipan untuk tidur. Nara pun
kelelahan dan tertidur dengan pulas, mungkin dalam mimpinya pun dia tidak akan
bisa tenang.
***
“Nara, kenapa kamu datang ke sini?” sebuah
suara menghentikan langkahnya. “Pergilah kamu dari sini! Larilah! Jangan kamu
hiraukan apapun yang terjadi.”
Naracandri kebingungan mencari sumber suara
itu, dekat sekali dan sepertinya dia mengenali suara itu. Mengingatkannya pada
sosok yang sangat dikaguminya, kakak perempuannya.
“Nara, larilah, jauhi tempat ini!”
“Mbakyu, betulkah kamu mbakyuku, Mbakyu
Narasati?” tanya Naracandri keheranan dan penuh harap.
“Betul!” namun bukan kegembiraan yang
terengar. Hanya sebuah suara lelah yang putuh asa.
“Mbakyu kamu di mana, ak…” Naracandri
berhenti bersuara ketika dia mengandung sesuatu dan ada sebuah benda asing yang membuat rusuk dan
dadanya terasa perih dan ngilu.
Naracandri meraba ulu hatinya, basah ya
basah, namun bukan keringat, melainkan darah segar yang merembes dari bekas
tombak yang menghunjam tubuhnya dari belakang.
“Bodoh!!” teriak Narasati. “Ini penuh jebakan
Nara, kita telah terjebak. Ada orang yang sengaja ingin membunuh kita, Nduk!”
“Ke… kenapa, Yu?”
“Mereka takut kepada kita. Katanya kita
adalah sumber malapetaka yang terjadi di kampung kita.”
“Apa?!” suara Naracandri terdengar lirih
menahan sakit. Dia berusah mengingat kejadian pagi tadi. Ketika laki-laki
separo baya mengetuk pintu gubuknya di atas perbukitan itu. Padahal Naracandri
masih tidur dan dalam kelelahan yang sangat, sebab ritual semalam begitu
menguras tenaganya.
“Nara… Nara… dimana kau, Nduk?” dibarengi
dengan gedoran sehingga pintu yang tebuat dari papan itu seperti mau ambruk.
Naracandri geragapan seperti ada seekor
kalajengking yang menyengat tubuhnya. Dia menggigil di tepian dipan. Kirana
juga memegang erat tangan Naracandri, tubuh kirana memucat dan jantungnya
berdegup kencang.
“Naracandri!” suara itu datang lagi,
“keluarlah sebentar, Nduk, ada yang ingin aku sampaikan.”
“Se… se… sebentar!” akhirnya Naracandri
memberanikan mengeluarkan suara. Tidak seperti biasanya, tidak seorang pun yang
sudi bertandang ke gubuknya semenjak kematian suaminya, apalagi sepagi ini.
Sebetulnya, dalam dada Naracandri terbesit ketakutan yang sangat, namun dia mau
tidak mau harus membukakan pintu. Perhalan dia berjalan mendekati pintu,
diintipnya lewat lubang siapa yang datang. Seorang kakek, mungkin tetua
kampungnya. Lalu perhalan dia menurunkan palang kayu yang mengunci pintu itu.
“Silahkan masuk, Ki. Ada apa ya, pagi-pagi
sekali sudah mencari saya?”
“Saya mendengar, bahwa di hutan kaki gunung
Kambe, ada sesuatu yang memerlukan bantuanmu, Nduk. Ada aral yang melintangi jalan di sana.” Namun Naracandri
mengendus sebuah kebohongan di mata orang itu.
Kenapa harus berurusan lagi dengan gunung
Kambe, bisik Nara dalam hati. Ini adalah ketakutannya, sebab gunung itu
menyimpan misteri dan juga selalunya malapetaka yang menimpa desa berawal dari
pertanda-pertanda yang dihadirkan oleh gunung itu.
“Betulkah itu, Ki?” tanya Naracandri
menyelidik.
“Betul!” jawab lelaki itu singkat. “Jika kamu
tidak keberatan, dan kamu ingin menyelamatkan penduduk kampung ini, pergilah ke
sana sebelum matahari mencapai ubun-ubun.” Lalu lelaki separo baya itu pergi
meninggalkan tempat itu. Naracandri termanggu beberapa saat, aneh, pikirnya dalam hati. Bukankah dia
lebih bisa mengatasinya, karena dia adalah tetua kampung.
Namun sesuai dengan firasatnya, bahwa akan
terjadi pertumpahan darah, Naracandri pun tidak bisa tinggal diam. Dia bergegas
untuk melaksanakan tugas itu, meskipun dirasanya agak aneh juga. Kirana yang
masih pulas tertidur ditinggalkannya begitu saja, tanpa pamit dulu kepadanya.
Naracandri lunglai, dalam pikirannya hanya
ada Kirana saat ini. Dia tidak tahu jika ajal menjemputnya, siapa yang akan
membesarkannya.
“Kirana, maafkan simbok, Nduk!” desisnya.
***
“Hahahaha…!” tawa itu terdengar mengejek.
“Ternyata mudah untuk mengelabuhi dua bersaudara ini ya!”
“Siapa kamu?”
teriak Narasati dalam geletar ketakutan.
“Kamu tak perlu tahu saya siapa, yang penting
aku telah menangkap ke dua perempuan laknat yang mengganggu kerjaku!” lalu
lelaki itu mendekati Naracandri.
“Tombak ini terlalu kecil, binatang buas saja
tak kan mati, tapi kamu perempuan liar, mengapa begitu rapuh? Mana kekuatanmu?”
lalu lelaki itu mencabut dengan paksa tombak yang menancap di dada Naracandri.
Darahpun menyembur.
Naracandri belum mati, dia masih tahu gerak
langkah lelaki itu, mendekati sebuah pohon lalu mengeluarkan belati dan memutus
tali yang melingkar di pohon itu. Lalu lelaki itu menarik salah satu ujung tali
hingga kelihatan sesosok perempuan terikat di sana, Narasati.
“Yu
Sati!” bibir Naracandri bergetar mengucapkannya.
Lelaki itu menarik Narasati dan mendorong
tubuh Narasati hingga terjerembab di sisi Naracandri. Lalu lelaki itu menyeringai.
“Mampus kalian!” lalu lelaki itu berpaling
dan berseru, “Sudah siap apa belum?”
“Sudah!” jawab suara di balik semak-semak.
“Kemarilah dan bantu menggotong mereka berdua
ke situ!”
“Baik!”
Lalu bermunculan tiga orang laki-laki, mereka
semua kelihatan beringas. Mereka mengangkat tubuh yang lemah itu, Narasati dan
Naracandri pun tak bisa melawan, mereka kehilangan tenaga. Hanya tetembangan
yang bisa dia kidungkan, berharap mereka mampu merasakannya dan mengurungkan
niatnya untuk melakukan hal yang buruk pada diri mereka.
Namun rupanya hal itu tidak mempan, mereka
sudah dungu, hati mereka tertutup oleh sebuah kebencian. Sehingga tembang yang
dikidungkan oleh kembang sepasang itu tak bermakna lagi. Mendung menyapu wajah
Narasati dan Naracandri. Terlihat di hadapan mereka, sebuah gundukan daun
kering dan ranting kayu disusun sedemikian rupa seperti sebuah tempat untuk
pembakaran. Lalu mereka lelaki-lelaki yang beringas itu mengikat Naracandri dan
Nara sati pada kayu yang diberdirikan, memang sengaja dipersiapkan seperti itu,
guna memudahkan untuk membakar tubuh kembang sepasang ini.
Setelah diikat kuat dan memastikan tidak akan
lepas, lelaki-lelaki itu tertawa-tawa garang dan wajahnya menyiratkan
kemenangan yang teramat sangat.
“Ki… ra…na…” desis Naracandri hampir tidak
terdengar. “Semoga ada yang menolongmu, Nduk.”
Naracandri memejamkan matanya erat-erat,
dalam benaknya berkelebat bayang suaminya, tersenyum.
“Bodoh! Kamu belum akan mati Nara, tugasmu
masih banyak dan panjang,” kata bayang-bayang suaminya itu. Sontak Naracandri
membuka mata dan memulai mendendangkan kidung lagi.
Narasati pun kaget dan dia mengikuti tembang
itu. Capung-capung beterbangan, hutan menjadi hening bahkan terlalu ganjil
untuk waktu siang yang panas. Namun tiba-tiba ada keganjilan yang lebih ganjil
lagi, guruh membelah angkasa dan tidak lama kemudian hujan lebat membasahi
bumi.
Keempat lelaki yang garang tadi kebingungan
dan mengumpat berulang kali. Rencananya gagal lagi, obor yang di tangan mereka
pun padam. Dari arah barat terdengar suara gaduh seperti rombongan orang
kampung. Hal ini semakin mengherankan, namun Naracandri tidak bisa mendengar
apa-apa lagi, nyeri di dadanya teramat sangat.
***
Telaga bening di hadapan Naracandri bersinar
indah, sepasang angsa berenang di sana.
“Nara, saatnya kamu pulang!”
“Aku ingin ikut kamu saja, Kang,” jawab Nara sendu.
“Pulanglah cepat, di sana banyak yang
menunggumu.”
Lalu dengan sigap tubuh Naracandri terdorong,
ke lorong-lorong entah. Dan akhirnya dia mendengar suara-suara yang pernah dia
kenal, Kirana, pikirnya. Namun dia merasakan kembali perih di dadanya dan
ingatannya kembali.
“Mbok, bangun Mbok.”
Suara kecil memelas itu.
“Ki… ra…na,” desisnya lemah hampir tidak
terdengar.
“Mbok,
kamu sudah bangun Mbok?” pekik Kirana
anatara percaya dan tidak.
“Mbokde
Sati, simbok sudah bangun!” teriaknya
lagi.
Naracandri mengumpulkan tenaga untuk membuka
mata dan mengenali keadaan sekitarnya, lalu dia meraba dadanya, ada balutan
kain di sana membungkus bobok. Lalu
dia melihat Kirana menyeret Narasati mendekatinya.
“Syukur, Nara, jika kamu telah sadar, sudah
seminggu kamu pingsan,” kata Narasati sambil menyodorkin gelas berisi air.
Hah?!
Seminggu aku pingsan, batin Naracandri.
“Kalau masih lemah kamu berbaring dulu. Nanti
aku akan menjelaskan semuanya.”
“Tidak usah Yu, aku tidak mau mendengar
penjelasan apa-apa lagi, yang penting kita selamat.” Lalu mereka bertiga
berpelukan.